Uang Pertanggungan Optimal

Perusahaan asuransi saat ini berlomba-lomba dan bersaing melalui produk-produk unggulan yang ditawarkan ke nasabah. Banyak dari agen asuransi yang dapat menjelaskan pentingnya produk mereka. Namun masih banyak agen yang bingung, berapa nilai Uang Pertanggungan Optimal ?

Pentingnya dan Cara Menghitung Uang Pertanggungan Optimal

Alasan pentingnya menghitung uang pertanggungan optimal sebagai berikut :

  1. Kepala keluarga (ayah) yang umumnya mempunyai Nilai ekonomis, tidak terjamin kondisi kesehatannya. Sehingga penting untuk dihitung Uang Pertanggungan ayah yang optimal disesuaikan dengan nilai ekonomis si ayah. Nilai ekonomis secara sederhana dihitung dengan nilai pendapatan bulanan yang didapat.
  2. Adanya pihak keluarga yang terkait dengan pihak yang memiliki nilai ekonomis. Misal sang ibu hanya seorang ibu Rumah Tangga memiliki anak masih sekolah, mengandalkan ayah sebagai pencari uang. Begitu ayah mengalami musibah, harus diperhitungkan angka Uang Pertanggungan Optimal yang bisa digunakan oleh ibu dan anak tersebut untuk menjalani kehidupan.

Metoda untuk menghitung Uang Pertanggungan Optimal

Metode Human Life Value.Menghitung berdasarkan pendapatan rata-rata bulanan dikalikan 12, serta dikali dengan ekspetasi lamanya dana tersebut bisa menopang hidup ahli waris hingga bisa ahli waris bisa mendapat penghasilan sendiri.  Misal ayah 35 th, penghasilan Rp 5 juta bulanan, memiliki istri dan anak 9 th, jika ayah pencari nafkah utama dan meninggal maka besarnya Uang Pertanggungan = Rp 5 juta x 12 x 9 th = Rp 540 juta. Ini artinya hingga usia anak 18 tahun (bisa bekerja si anak), UP bisa diambil sebesar Rp 5 juta tiap bulannya, tanpa menghitung bunga.

Metoda Income Based Value. Menghitung berdasarkan pendapatan rata-rata bulanan dikalikan 12,lalu dibagi dengan faktor pertumbuhan dana karena UP tersebut diinvestasi.  Misal ayah 35 th, penghasilan Rp 5 juta bulanan, memiliki istri dan anak 9 th, jika ayah pencari nafkah utama dan meninggal maka besarnya Uang Pertanggungan = Rp 5 juta x 12 /6% = Rp 1 M. Ini artinya UP meninggal nantinya akan di investasikan ke ORI (obligasi ritel indonesia) dengan nilai return 6%. Atau sama dengan Rp 5 juta per bulan dengan tingkat bunga 6% merupakan bunga dari Uang senilai 1 M yang ditanamkan ke Obligasi.

Metoda Financial Needs Based Value.  Metode ini lebih spesifik memproteksi kebutuhan finansial di masa mendatang, misal dana pendidikan. Metode ini mengkombinasikan invetasi bulanan yang memberi bunga lebih besar dari deposito, sehingga premi yang dibayar tidak terasa berat. Metode ini berbeda dengan dua metode sebelumnya, dimana metode ini tidak memproteksi penghasilan, tapi hanya kebutuhan keuangan di masa mendatang. Contoh kasus sama, , digunakan untuk menghitung biaya pendidikan anak kelak, jika ayah meninggal dunia. Misal biaya pendidikan di universitas saat ini sebesar Rp 200 juta, maka 9 tahun lagi menjadi Rp 550 juta dengan perkiraan kenaikkan biaya universitas sebesar 12% per tahun, maka UP harus Rp 550 juta, atau UP sebesar Rp 275 juta dengan tambahan investasi pada reksa dana sebesar Rp 250 ribu/ bulan dengan target return 18% / tahun.

 

Sumber artikel : buku Panduan Praktis Pembeli & Penjual Asuransi karya Nisrina Muthohari.

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply